Tuesday, 10 March 2015


"...supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain."  1 Korintus 4:6


Secara umum, panggilan Tuhan adalah beban yang Tuhan taruh di dalam diri orang percaya untuk melayani dan berkarya bagi Dia.  Tuhan berkata,  "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah..."  (Yohanes 15:16).  Artinya Tuhanlah yang memilih kita, bukan kita yang memilih Dia, bahkan Ia menyelamatkan dan mengangkat kita untuk menjadi anak-anak-Nya dan umat pilihan-Nya.  Apa tujuan Tuhan memilih dan memanggil kita?  Supaya kita memasyhurkan nama-Nya melalui perbuatan kita dengan menjalankan peran kita sebagai saksi-saksi-Nya di tengah-tengah dunia ini.

     Panggilan untuk memasyhurkan nama Tuhan inilah yang telah dilupkan dan diabaikan oleh jemaat di Korintus!  Rasul Paulus pun mempertegas, mengingatkan dan meluruskan kembali motivasi pelayanan mereka.  Apa itu motivasi?  Motivasi adalah sebuah kekuatan yang melatarbelakangi setiap perencanaan, keputusan, pilihan dan tindakan seseorang.  Kekuatan inilah yang memberi semangat dan gairah untuk kita mengerjakan sesuatu, baik itu yang sifatnya positif maupun yang negatif sekalipun.  "...sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).  Tuhan sangat memperhatikan motivasi seseorang dalam melakukan segala sesuatu, baik dalam pekerjaan apa pun, terlebih-lebih dalam melayani Tuhan.  Penting sekali menjaga motivasi kita tetap selaras dengan kehendak dan panggilan Tuhan, sebab itu akan mempengaruhi pikiran, sikap, tindakan, serta menentukan hasil yang kita kerjakan.

     Rasul Paulus mendapati ada banyak jemaat Korintus yang tidak lagi menempatkan Kristus sebagai pusat pujian, tetapi mereka cenderung memegahkan diri sendiri.  Kesombongan telah menjadi penyakit yang sangat kronis sampai-sampai Paulus harus memperingatkan,  "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."  (1 Korintus 10:31).

Motivasi apa yang mendasari kita dalam melakukan segala sesuatu?  Untuk kebanggaan diri sendiri atau untuk memasyhurkan nama Tuhan?

Apa Maunya??

ADA MAUNYA

Seorang teman mengeluhkan sikap rekannya yang menawarinya bergabung di sebuah bisnis Multi Level Marketing. Awalnya ia diperlakukan sangat spesial, ditelepon dengan rajin, dan ditraktir makan. Tetapi ketika ia memutuskan tidak bergabung menjadi anggota program bisnis itu, sikap rekannya berubah drastis: dingin setiap bertemu, tidak bersahabat, dan terkesan bermusuhan.

Banyak orang yang hidup secara munafik dan mengenakan topeng, tidak terkecuali orang yang mengaku percaya Kristus. Mereka berbuat baik sebagai umpan; mereka sebenarnya memiliki tujuan tertentu untuk kepentingan pribadi. Kasih mereka tidak tulus. Dan biasanya, orang seperti ini memiliki batas waktu dan kesabaran. Ketika tujuan mereka tidak tercapai, karakter mereka yang sebenarnya akan terkuak. Sikap yang demikian dapat memecah-belah jemaat, menjadi sandungan bagi banyak orang, dan tentu saja tidak menghormati Tuhan.

Rasul Paulus mendorong orang Kristen di Roma agar tidak berpura-pura dalam mengasihi. Itu sebuah kejahatan. Sebaliknya, hendaknya mengasihi dengan tulus, tanpa pamrih, bukan karena ada agenda terselubung untuk menguntungkan diri. Tindakan ini tidak hanya ditujukan pada sesama orang percaya (ay. 10), tetapi pada semua orang (ay. 17). Tentu saja ini bukan hal yang mudah. Karenanya, kita perlu mengenal kasih Allah, yang terbukti melalui karya Kristus di kayu salib. Ketika kita terhubung dengan sumber kasih itu, kita akan dapat menyalurkannya kepada orang lain tanpa berpura-pura. --Hembang Tambun /Renungan Harian

Saturday, 25 May 2013

Just Call Jesus


Daud didalam alkitab adalah seorang yang beriman didalam Tuhan, pada masa mudanya ia tak menghabiskan waktunya untuk kesenangan, pesta, hura-hura, namun lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Hidupnya sangat dekat dengan Tuhan, sehingga ia pun menjadi anak muda yang berkenan dihadapanNya. Bahkan pada saat ada banyak masalah besar yang menimpa dirinya, daud pun tak lupa dengan Tuhan, ia tenang dalam menghadapai masalahnya (seperti sewaktu melawan goliath), karena ia tau bahwa Tuhan lah sang penolong hidupnya, pasti akan melindunginya.

Sobat Kristen, terkadang pada saat kita dilanda suatu masalah, tak sedikit dari kita yang memiliki sebuah kepanikan dalam dirinya, dan tentu, kepanikan itu membuat kita tidak dapat berpikir jernih dan positif. Selalu ada saja sikap negative yang muncul di sela-sela pola pemikiran kita, “yang jahat itu harus dijahatin juga”, “yang jahat harus merasakan kejahatan yang sama”, dan sebagainya. Sikap negatif seperti itu haruslah kita jauhi, ingat apa teladan hidup yang Tuhan inginkan dari hidup kita, “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu, kasihilah musuhmu”
Teladan seperti ini akan memberikan sikap dan teladan yang baik dalam kehidupan kita.

Apa yang kudapat hari ini:
Tuhan siap membantu kita dan melindungi kita dari masalah sesulit apapun itu. Pertolongan dari-Nya lebih terjamin dan terpecaya, just Call Him!

Sauh Bagi Jiwa

Ibrani 6:19
Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 2; Matius 2; Kejadian 3-4

Harapan adalah sikap yang sehat. Mengantisipasi yang baik membawa kenyamanan bagi pikiran dan hati. Sebaliknya, keadaan putus asa adalah suatu kondisi yang mengerikan. Ini luar biasa dan menyedihkan untuk berpikir bahwa apa yang Anda hadapi tidak dapat diubah atau diselesaikan. Bagi orang yang telah kehilangan semua harapan, kehidupan tampak seperti terowongan gelap yang panjang.

Penulis kitab Amsal bahkan menggambarkan hasil dari perasaan yang tertekan ini: "Harapan yang tertunda menyedihkan hati" (Amsal 13:12a). Emosional, fisik, dan bahkan penyakit mental menghantui orang yang merasa terjebak dalam situasi suram. Tapi saya ingin memberitahu Anda, bahwa selama ada Tuhan, tidak ada situasi yang tanpa harapan. Dalam Dia, kita memiliki janji-janji kehidupan.

Orang-orang percaya memiliki pengharapan yang menyauh jiwa mereka. Hubungan kita dengan Yesus Kristus membawa kita dekat dengan tahta surga, di mana kita dapat melemparkan semua beban kita di hadapan Allah yang Maha Kuasa. Selain itu, kita dapat berpegang teguh kepada-Nya saat berbagai  cobaan kita hadapi. Oleh karena kasihNya yang besar, Dia menyediakan kekuatan bagi tubuh lelah, perdamaian bagi pikiran yang cemas, dan kenyamanan untuk hati berduka. Singkatnya, DIA adalah lampu yang lembut di terowongan gelap yang menuntun kita keluar dari berbagai ujian dan pencobaan.

Ibarat kapal, pengharapan adalah jangkar terbaik untuk jiwa kita.